Kamis, 28 Agustus 2014

Pengamat Apresiasi Pengelolaan Pajak di Bawah Presiden



Jakarta - Rencana pengelolaan pajak oleh sebuah badan khusus di bawah presiden mendapat apresiasi dan bahkan dianggap sangat krusial untuk dilaksanakan di Pemerintahan mendatang dengan segera.

Yustinus Prastowo, analis Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Jakarta, menjelaskan penerimaan pajak adalah sumber pendapatan negara terbesar, mencapai 75 persen penerimaan APBN.

Mencermati penerimaan pajak dalam RAPBN 2015, dia menilai pemerintahan baru nanti akan menanggung risiko penyempitan ruang fiskal karena potensi perlambatan ekonomi mengancam pertumbuhan penerimaan pajak menuju titik nadir. Yaitu di bawah dua digit alias di bawah 10%.

"Karena itu, di tengah aneka ikatan yang membelenggu, rencana pengelolaan pajak oleh badan tersendiri setingkat kementerian di bawah Presiden merupakan gagasan yang baik dan patut diapresiasi," tegas Yustinus kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (23/8).

Dengan itu, lanjutnya, Pemerintahan baru akan melakukan reformasi sistem perpajakan secara menyeluruh, yang menyentuh aspek kebijakan, ketentuan, maupun administrasi. Sekaligus menyusun skala prioritas dan standar capaian kinerja yang terencana, terarah, dan terukur.

"Kebijakan perpajakan 5 tahun ke depan harus mencerminkan perimbangan penegakan hukum, perlindungan hak wajib pajak, pelayanan prima, dan redistribusi pendapatan yang lebih baik melalui penyediaan infrastruktur dan layanan dasar bermutu," jelasnya.

Sebagai catatan untuk memperkuat gagasan itu, Yustinus menjelaskan bahwa selama 10 tahun Pemerintahan Presiden SBY, tax ratio atau perbandingan penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), hanya sebesar 12,3 persen. Itu naik 0.2 persen saja dari kondisi 2004.

Kondisi demikian berada di bawah rerata tax ratio Negara sebaya (lower-middle income countries) yang sebesar 17,7 persen. Padahal standar tax ratio untuk mencapai tujuan pembangunan millenium sebesar 25 persen.

"Bahkan Indonesia di bawah Negara-negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Kondisi ini amat memprihatinkan karena kebutuhan pembiayaan pembangunan yang amat besar tidak diikuti peningkatan penerimaan pajak yang signifikan," jelasnya.

Yustinus menekankan bahwa rendahnya tax ratio mencerminkan tidak adanya peta jalan pembentukan sistem perpajakan nasional yang baik. Hal itu tercermin dalam fakta bahwa target penerimaan pajak dalam 4 tahun terakhir tidak pernah tercapai. Selain itu, penambahan jumlah wajib pajak melambat, dimana baru mencapai sekitar 25 juta pada 2013 dari 60 juta penduduk potensial.

"Selain itu, tingkat kepatuhan pajak masih rendah, hanya di bawah 50 persen pada 2012-2013. Selain itu, masih marak praktik penghindaran pajak, dan tingkat korupsi di institusi pemungut pajak yang masih tinggi," ujarnya.

Maka tak mengherankan bila penetapan tax ratio di RAPBN 2015 sebesar 12,3 persen tidak sekedar konservatif, tetapi juga menunjukkan kemalasan Pemerintah berinovasi dan berkreasi. Sumber-sumber potensi penerimaan pajak belum dipetakan secara baik dan upaya pemungutan pajak belum dilakukan dengan optimal, jelas Yustinus.

"Hal ini tampak dalam timpangnya tax ratio sektoral, terutama sektor-sektor unggulan yang berkontribusi besar terhadap PDB seperti perkebunan dan kehutanan, pertambangan, konstruksi, dan jasa," ujarnya.

Jokowi Bisa Jadi Presiden Lumpuh


      Jakarta (beritajatim.com) - Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), program yang diusung pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) akan terganjal di DPR RI. Sebab, di parlemen nanti dikuasai oleh Koalisi Merah Putih. Demikian sesuai hasil survei LSI yang menyebutkan sebesar 45,60% publik meyakini program-program Jokowi-JK akan terhambat di DPR jika DPR didominasi Koalisi Merah Putih. "Mayoritas parlemen dikuasai Koalisi Merah Putih. Sebesar 45,60% publik meyakini program Jokowi-JK akan terhambat di DPR," ujar peneliti LSI, Ruli Akbar, Kamis (28/8/2014). Sedangkan sebesar 31,09% memiliki kepercayaan bahwa program-program Jokowi tidak akan terhambat. "Publik khawatir Jokowi-JK menjadi presiden yang lumpuh. Tapi 31,09% publik percaya program (Jokowi-JK) nya tidak akan dihambat," tambahnya. Diketahui, pemerintahan Jokowi-JK akan secara resmi dimulai setelah pelantikan pada 20 Oktober 2014.

Selasa, 26 Agustus 2014

Acara Gerak Jalan 17 Agustus

      Acara Gerak jalan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus diselenggarakan dengan meriah oleh sekecamatan sine dan diikuti oleh seluruh desa di wilayah kecamatan sine. Para perangkat Desa ikut memeriahkan acara ini begitu juga dengan ibu-ibu pkk yang ikut aktif serta dalam memeriahkan acara ini.


Akses Informasi Desa Kuniran

        Kini telah Hadir Web Informasi Desa Kuniran. Web Ini terbuka untuk masyarakat Desa Kuniran kususnya, dengan adanya Web ini warga tidak lagi repot harus datang ke kantor desa, cukup dengan duduk manis dan mengakses www.desa-kuniran.blogspot.com berita dan layanan yang ada di desa Kuniran sudah dapat diketahui

Potensi Desa Sektor Tanaman Holtikultura

Tanaman Holtikultura

      Hasil yang didapat dari Sektor Tanaman Holtikultura juga sangat menjajikan menjadi salah satu pelopor kegiatan tanam pohon asuh dan didukung oleh pemerintah kabupaten ngawi. Usaha yang dirintis bapak Wagiman membuahkan hasil yang fantastis dengan omset 60 juta perbulan. Pemasaran dilakukan dengan konsumen langsung.



Alamat   : Dukuh Klebet, Desa Kuniran
Nama     : Wagiman
No Hp    : 085227160739

Potensi Desa Sektor Pertanian dan Perkebunan

Hasil Pangan Padi
       Luas Lahan Sawah di Desa Kuniran 125,49 Ha/m2. Hal ini membuat mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah petani, dengan hasil setiap tahun hampir 2700 Ton.

 Tanaman Perkebunan
        Tanaman Perkebunan yang sangat sering ditemui di Desa Kuniran adalah Tanaman  Sengon Jabon. Hasil dari tanaman Perkebunan ini akan menjadi bahan baku untuk meubel.


 Tanaman Apotik Hidup
       Kunyit menjadi salah satu ciri khas tanaman yang banyak ditemui di Desa Kuniran, hasil yang    diperoleh setiap tahunnya adalah 14,5 ton dengan luas lahan 30 Ha.


Alamat     : Dukuh Klebet, Desa Kuniran, Rt 06 Rw 03
Pemilik    : Bapak Loso
No Hp     : 081259668928

Rabu, 20 Agustus 2014

INDUSTRI MAKANAN

         


          Desa Kuniran memiliki salah satu Potensi Desa dari Sektor Industri Makanan yang dapat dikembangkan, sektor Industri tersebut adalah :
  Makanan Kecil
          Ibu Erlin adalah salah satu pengembang usaha makanan kecil yang beralamat di Desa Kuniran, beliau merintis usaha dari nol dengan modal usaha yang kecil, hasil yang diperoleh sekitar 3,5 juta per bulan dengan menjual langsung ke konsumen.
 Katering
     Industri katering juga berkembang di desa Kuniran salah satu yang menggeluti usaha ini adalah ibu Ida, hampir sama dengan industri makanan kecil beliau juga membuka usaha dengan modal yang kecil tetapi berkat usaha yang ditekuni hasil yang didapat per bulan mencapai 6 juta rupiah, pangsa pasar yang dikembangkan juga langsung melayani konsumen.
Kripik Tempe
     Kripik Tempe sangat terkenal khas Ngawi, begitu juga di desa Kuniran Tempe merupakan makanan pokok setiap hari, industri ini memiliki omset 4 juta rupiah per bulan.

Kripik Singkong
       Kripik singkong juga merupakan makanan yang sangat mudah di dapat, karena kondisi tanah yang subur sehingga banyak umbi yang ditanam dan dijadikan industri 
 makanan.








Alamat    : Dukuh Brentolo, Desa Kuniran
Pemilik   : Bapak Sudiarto (Pak Wo)
No Hp    : 085334754177